Home

Advertisement

Customize
cikacika
02 November 2008 @ 11:07 pm

The Yellow Street
1st Chapter

 

Ia berjalan sedikit gontai menyusuri jalan itu, jalan yang selalu ia lewati setiap berangkat sekolah. Untuk sampai di sekolahnya ia harus berjalan 5 menit menuju stasiun, naik kereta sekitar 15 menit, kemudian berjalan kembali hingga sampai di Kyouran Koukou 3 menit. Namun, untuk sampai di kelas, ia harus menempuh perjalanan kembali selama 3 menit. Bosan, itulah yang ia rasakan saat itu. Menjalani rutinitas pagi yang hampir tidak berwarna, bahkan transparan pun tidak.

Tapi, ternyata ada yang berbeda pagi itu. Ia dengan cepat menyadari perbedaan itu. Seorang cowok yang biasanya tertidur di bawah pohon besar di pinggir sungai itu terlihat kurang wajar.  Yang ia tahu, cowok itu memiliki cara tidur yang agak berantakan. Namun, yang ia lihat sekarang justru cowok yang sama yang tidur terbaring rapi dengan bunga mawar putih di dadanya. Dengan curiga, ia mendekati cowok yang bahkan namanya pun belum ia ketahui. Baru kali itu ia berniat untuk mendekatinya, tapi bukan dengan maksud-maksud tertentu. Ia hanya takut kalau ternyata cowok itu telah menjadi mayat dan tak seorang pun mengetahuinya.

Penuh kehati-hatian dengan derap langkah yang halus, ia kian dekat dengan tubuh yang masih tak bergerak. Kecurigaan semakin meningkat, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Belum sampai tangannya memegang lengan kurus cowok itu untuk mengecek denyut nadinya, mata sang cowok terbuka perlahan. Cowok itu menyaksikan cewek di depannya yang ternyata sudah memegang pergelangan tangan kiri yang tadinya tergeletak di rerumputan yang bercampur dengan serbuk bunga berwarna kuning. Ia yang terbangun tiba-tiba membuat cewek yang sedang jongkok itu terdorong ke belakang.

“Gyaa!!” cewek itu tersentak ketika kepalanya menyentuh tanah.

“Heh, apa yang kau lakukan? Dan apa masksudnya mawar ini?” tanyanya dengan wajah sedikit kesal dan bingung.

“Ternyata kau hidup. Maaf sudah menganggu,” cewek itu segera berdiri, mengambil tasnya yang juga terjatuh. Ia melengos pergi.

“Hei, kau. Apa maksudnya mawar ini, heh?” sekali lagi ia tanyakan dengan nada meninggi.

“Ee.. maksudnya? Sebelum itu pun, mawar itu sudah ada di sana. Itu bukan urusanku. Permisi,” kembali ia melengos dan mempercepat langkahnya. Cowok itu masih duduk memegangi mawar putih sambil menatap cewek tadi berjalan meninggalkannya. Wajanhya tampak masih kebingungan.

***

“Pagi, Takihara-san,” sapaan itu terdengar bertubi-tubi oleh orang-orang sepanjang ia berjalan di lorong gedung. Ia layaknya selebritis, tentu saja. Ia memang salah satu orang terkenal di sekolahnya, wakil ketua OSIS sekaligus pemenang Best Couple bersama Sakigake Yukitaka di festival sekolah tahun lalu. Ia pun membalas sapaan orang-orang itu dengan senyuman yang ramah.

“Pagi, Kiyona-san. Tampaknya lebih lambat 7 menit dari biasanya. Ada apa?” tanya salah seorang cewek dalam ruangan OSIS.

“Yaah, ada kejadian pagi ini. Yukitaka-kun masuk kan? Aku ke kelasnya saja,” cewek bernama lengkap Takihara Kiyona ini hanya menjawab seperlunya.

“Kok terburu-buru? Kakakku masuk kok. Mungkin ia sudah di kelasnya. Mengobrollah dulu di sini.”

“Hisayuki-san, maaf. Aku ke sana dulu ya, permisi,” seperti halnya tadi pagi, ia melengos pergi. Ia meninggalkan ruang OSIS menuju kelas 3-A yang tak jauh dari sana.

“Permisi, Sakigake-kun ada?” ia bertanya pada seseorang yang paling dekat dari pintu kelas. Tanpa menjawab, orang itu segera memanggil Sakigake-kun yang dimaksud.

“Aa.. Kiyo-chan. Tumben nih, ada apa?” Sakigake Yukitaka menghampirinya di depan pintu kelas.

“Enggak kok. Aku cuma mau ketemu. Oya, nanti aku tunggu di atap ya. Aku udah buat bekal untuk kamu. Belakangan ini kamu makin kurus,” katanya dengan ekspresi yang sedikit datar.

“Masa’ sih? Makasih ya,” kata cowok yang biasanya dipanggil Yuka ini. Kiyona pun hanya tersenyum kemudian meninggalkan pasangannnya itu.

***

“Kiyo-chan.. kok bekalnya.. banyak?” wajah Yuka tamapak antusias melihat bekal Kiyona yang tampaknya luar biasa. Isinya lengkap dengan lauk-pauk yang banyak. Ada pula buah potong dengan dressing mayonaise yang sederhana namun memikat.

“Kan aku udah bilang, kalo kamu itu makin kurus sekarang. Nanti kalo kamu kurang makan jadi rentan penyakit,” jawabnya sambil ikut makan bersama Yuka. “Oh ya, tadi pagi aku...” tiba-tiba ia berhenti bicara.

“Eum.. ya? Kok berhenti? Tadi pagi kamu kenapa?” Yuka berhenti mengunyah.

“Oh, enggak kok. Tadi pagi aku agak telat ke sekolah.” Kiyona tidak berbohong, tetapi bukan itu yang ingin ia katakan. Dalam hatinya ia ingin menceritakan kejadian tadi pagi, tapi ia mengurungkan niatnya. “Aku ‘kan nyiapin bekal ini, jadi agak telat padahal aku udah bangun lebih pagi,” lanjutnya masih sedikit mnutupi kebohongan sebelumnya.

 

to be continued...

Tags:
 
 
Current Location: PP
Current Music: Depapepe - Sakura Kaze
 
 
cikacika
12 October 2008 @ 08:45 pm

Ini adalah cerita mimpi gw beberapa waktu  lalu, sudah cukup lama terjadi. sekitar tanggal 28-29 Oktober 2007 *udah lama banget ya??*. Tapi, mimpi ini  masih terngiang-ngiang dalam pikiran gw karena ini merupakan salah satu cerita mimpi gw yang cukup unik..

dan inilah cerita LIFT SANDIWARA...

Diawali di sebuah kantor yang cukup sederhana, hanya terdiri dari beberapa ruangan. Saat itu gw dan ItsuTomo gak tau mau ngapain di situ. Kita masuk lewat lobby dan masuk ke sebuah ruang yang gak terlalu luas. Di tengah ruangan itu ada sebuah kotak besar, setelah dilihat secara seksama ternyata itu adalah lift. Kita pun mendekati lift yang unik itu.

Ternyata bukan bentuknya saja yang unik tetapi juga isinya. Pas gw pencet tombol liftnya, pintu kebuka, tapi bukan itu hal unik yang gw maksud melainkan di dalamnya ada sebuah pertunjukkan yang bener-bener ‘sinetron’. Ada beberapa pemain di sana, salah satunya adalah seorang tokoh protagonis yang bego, lugu, dan mau aja disiksa sama lawan mainnya. Terlihat jelas dari ekspresi cewek itu kalo dia sangat tersiksa.

Gak berapa lama, dia nanya sama gw yang tepat di hadapannya, “Huu.. Mengapa aku harus tersiksa begini, selalu seperti ini…,”. Dia mengeluh disusul cucuran air mata yang belum seberapa.

Dia pun bertanya lagi, “Mba, ini udah episod yang ke berapa sih? Penderitaan saya gak berakhir sih?”. Ini adalah pertanyaan yang sulit, secara gw baru di situ belom lama dan gw pun buru-buru mencari jawaban. Gw lihat di atas lift itu ada angka-angka yang biasanya menunjukkan lantai berapa lift itu berada.

Gw jawab, “Oh, ini udah episod ke-T, mba.”. Gak cuma ntuh mba-mba yang bingung, gw pun bingung dengan jawaban gw sendiri. Cucuran air mata si pemain sinetron itu pun membanjir kembali dan bilang, “Apa?! Ini baru episod ke-T?! Kapankah aku bisa bahagia~?? Huhuhuhu…” dan pintu lift itu pun tertutup dengan sempurnanya.

Tampaknya yang dimaksud dengan episod ke-T itu mungkin kalo di lift ‘lantai G’ yang artinya masih di bawah. Jadi, episod ke-T itu baru mulai sinetronnya dan gak jelas kapan berakhirnya.

Kita pun membatalkan untuk naik lift dan memutuskan untuk berkeliling kantor itu. Setelah sampai di lantai atas dan selesai berkeliling, kita pun turun. Niki mengusulkan untuk naik lift biar cepet.

Pas nyampe di depan lift yang masih berada di tengah ruangan itu, lagi-lagi pintu lift kebuka dan di dalamnya ada sebuah pertunjukkan. Kali ini bukan pemain sinetron yang barusan, tapi beberapa alumni akhwat Rohis 68!!

Tetapi ini juga bukan drama melankolis seperti tadi, melainkan sebuah drama pembunuhan. Yang terbunuh di sana adalah kak Elda dan saksi mata yaitu kak Risda, kak Ratu, dan kak Rizka. Dramanya sih lebay-lebayan gitu, dari situ udah ketauan kalo itu cuma sekedar sandiwara.

Gw dan Niki pun dengan santainya masuk ke dalam lift. Pas pintunya udah hampir ketutup, ternyata ayah juga mau masuk ke lift, dia pun melompat masuk dan terjadi sedikit goncangan.

Di dalam lift gw pun melihat keadaan sekitar. Ternyata dinding lift itu cermin!! Gw memanfaatkan kesempatan itu dengan bercermin sepuasnya. Gw liat kerudung gw agak berantakan. Gw pun berusaha memperbaikinya, tapi tangan kiri gw lagi megang sesuatu jadinya agak susah. Gw pun maksain benerin kerudungnya.

Tiba-tiba kata Niki, “Cit, itu rambutnya berantakan.”

Gw jawab, “Oh, iya. Tolong benerin dong, Nik! Ribet nih.” Niki pun membantu gw. Tapi itu sebenernya gak terlalu membantu, ‘rambut’ gw masih tetep berantakan.

Gw memastikan kembali di cermin. Gw perhatikan lebih teliti lagi, kok gw merasa ada yang aneh gitu. Ternyata kerancuan ada di kepala gw!! Mana kerudung gw?! Bentuknya tuh jadi aneh, jadi kayak pake bandana yang segitiga, warnanya pink. Poni gw ke depan-depan gitu, terus rambut belakangnya jadi bewarna agak kecoklatan, sedikit gimbal, dan dalam keadaan terkuncir.

Lift itu pun berhenti dan pintunya terbuka. Tapi yang ada kita malahan gak ada yang keluar. Semuanya pada bengong, entah terkesima dengan keadaan. Dan mimpi ini pun berakhir di sini…

 

FIN
 
 
Current Location: warnet
Current Music: Monkey Majik - Together
 
 
 
 

Advertisement

Customize