The Yellow Street
1st Chapter
Ia berjalan sedikit gontai menyusuri jalan itu, jalan yang selalu ia lewati setiap berangkat sekolah. Untuk sampai di sekolahnya ia harus berjalan 5 menit menuju stasiun, naik kereta sekitar 15 menit, kemudian berjalan kembali hingga sampai di Kyouran Koukou 3 menit. Namun, untuk sampai di kelas, ia harus menempuh perjalanan kembali selama 3 menit. Bosan, itulah yang ia rasakan saat itu. Menjalani rutinitas pagi yang hampir tidak berwarna, bahkan transparan pun tidak.
Tapi, ternyata ada yang berbeda pagi itu. Ia dengan cepat menyadari perbedaan itu. Seorang cowok yang biasanya tertidur di bawah pohon besar di pinggir sungai itu terlihat kurang wajar. Yang ia tahu, cowok itu memiliki cara tidur yang agak berantakan. Namun, yang ia lihat sekarang justru cowok yang sama yang tidur terbaring rapi dengan bunga mawar putih di dadanya. Dengan curiga, ia mendekati cowok yang bahkan namanya pun belum ia ketahui. Baru kali itu ia berniat untuk mendekatinya, tapi bukan dengan maksud-maksud tertentu. Ia hanya takut kalau ternyata cowok itu telah menjadi mayat dan tak seorang pun mengetahuinya.
Penuh kehati-hatian dengan derap langkah yang halus, ia kian dekat dengan tubuh yang masih tak bergerak. Kecurigaan semakin meningkat, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Belum sampai tangannya memegang lengan kurus cowok itu untuk mengecek denyut nadinya, mata sang cowok terbuka perlahan. Cowok itu menyaksikan cewek di depannya yang ternyata sudah memegang pergelangan tangan kiri yang tadinya tergeletak di rerumputan yang bercampur dengan serbuk bunga berwarna kuning. Ia yang terbangun tiba-tiba membuat cewek yang sedang jongkok itu terdorong ke belakang.
“Gyaa!!” cewek itu tersentak ketika kepalanya menyentuh tanah.
“Heh, apa yang kau lakukan? Dan apa masksudnya mawar ini?” tanyanya dengan wajah sedikit kesal dan bingung.
“Ternyata kau hidup. Maaf sudah menganggu,” cewek itu segera berdiri, mengambil tasnya yang juga terjatuh. Ia melengos pergi.
“Hei, kau. Apa maksudnya mawar ini, heh?” sekali lagi ia tanyakan dengan nada meninggi.
“Ee.. maksudnya? Sebelum itu pun, mawar itu sudah ada di sana. Itu bukan urusanku. Permisi,” kembali ia melengos dan mempercepat langkahnya. Cowok itu masih duduk memegangi mawar putih sambil menatap cewek tadi berjalan meninggalkannya. Wajanhya tampak masih kebingungan.
***
“Pagi, Takihara-san,” sapaan itu terdengar bertubi-tubi oleh orang-orang sepanjang ia berjalan di lorong gedung. Ia layaknya selebritis, tentu saja. Ia memang salah satu orang terkenal di sekolahnya, wakil ketua OSIS sekaligus pemenang Best Couple bersama Sakigake Yukitaka di festival sekolah tahun lalu. Ia pun membalas sapaan orang-orang itu dengan senyuman yang ramah.
“Pagi, Kiyona-san. Tampaknya lebih lambat 7 menit dari biasanya. Ada apa?” tanya salah seorang cewek dalam ruangan OSIS.
“Yaah, ada kejadian pagi ini. Yukitaka-kun masuk kan? Aku ke kelasnya saja,” cewek bernama lengkap Takihara Kiyona ini hanya menjawab seperlunya.
“Kok terburu-buru? Kakakku masuk kok. Mungkin ia sudah di kelasnya. Mengobrollah dulu di sini.”
“Hisayuki-san, maaf. Aku ke sana dulu ya, permisi,” seperti halnya tadi pagi, ia melengos pergi. Ia meninggalkan ruang OSIS menuju kelas 3-A yang tak jauh dari sana.
“Permisi, Sakigake-kun ada?” ia bertanya pada seseorang yang paling dekat dari pintu kelas. Tanpa menjawab, orang itu segera memanggil Sakigake-kun yang dimaksud.
“Aa.. Kiyo-chan. Tumben nih, ada apa?” Sakigake Yukitaka menghampirinya di depan pintu kelas.
“Enggak kok. Aku cuma mau ketemu. Oya, nanti aku tunggu di atap ya. Aku udah buat bekal untuk kamu. Belakangan ini kamu makin kurus,” katanya dengan ekspresi yang sedikit datar.
“Masa’ sih? Makasih ya,” kata cowok yang biasanya dipanggil Yuka ini. Kiyona pun hanya tersenyum kemudian meninggalkan pasangannnya itu.
***
“Kiyo-chan.. kok bekalnya.. banyak?” wajah Yuka tamapak antusias melihat bekal Kiyona yang tampaknya luar biasa. Isinya lengkap dengan lauk-pauk yang banyak. Ada pula buah potong dengan dressing mayonaise yang sederhana namun memikat.
“Kan aku udah bilang, kalo kamu itu makin kurus sekarang. Nanti kalo kamu kurang makan jadi rentan penyakit,” jawabnya sambil ikut makan bersama Yuka. “Oh ya, tadi pagi aku...” tiba-tiba ia berhenti bicara.
“Oh, enggak kok. Tadi pagi aku agak telat ke sekolah.” Kiyona tidak berbohong, tetapi bukan itu yang ingin ia katakan. Dalam hatinya ia ingin menceritakan kejadian tadi pagi, tapi ia mengurungkan niatnya. “Aku ‘kan nyiapin bekal ini, jadi agak telat padahal aku udah bangun lebih pagi,” lanjutnya masih sedikit mnutupi kebohongan sebelumnya.
to be continued
